Bernard Madoff adalah nama seorang investor kawakan yang dikenal telah lama malang melintang di bursa Wall Street. Pada tahun 2005, Madoff menawarkan suatu skema kerjasama investasi yang menjanjikan pengembalian menggiurkan bagi para investornya. Dengan nama besar Madoff sebagai investor kawakan di Wall Strett dan janji pengembalian investasi yang menarik, tidak butuh waktu terlalu lama untuk Madoff menarik investor bergabung dengan skema investasi yang dia tawarkan. Hanya dalam tiga tahun, Madoff sudah berhasil menyerap US$ 50 Milyar sebelum akhirnya terungkap penipuan dengan kedok investasi ini di tahun 2008 dan makin memperparah dunia investasi di Amerika. Kedoknya terbongkar ketika para investor yang saat ini sedang kesulitan uang karena krisis, ternyata tidak bisa menarik uang mereka yang mereka tanamkan di bisinis Madoff tersebut. Dipercaya banyak kalangan, jumlah penipuan ala Madoff adalah jumlah investasi tipu-tipu terbesar yang pernah ada. Menurut penyelidik, Madoff tidak pernah memutar uang investor pada investasi. Dia menggunakan uang investor yang mendaftar belakangan untuk membayar keuntungan bagi investor yang telah masuk lebih dulu. Selebihnya dia gunakan untuk kepentingan pribadi.
Bila dilihat dari cara investasi dan iming-iming yang ditawarkan oleh Madoff, cara kerja investasi macam ini pernah ada di Indonesia dengan bendera QSAR. Qurnia Subur Alam Raya menjanjikan keuntungan berlimpah dari investasi yang dilakukan pada bidang pertanian yang mereka kelola. Ratusan investor kala itu juga berebut masuk ke QSAR dengan harapan memperoleh hasil investasi seperti yang dijanjikan. Namun setelah berhasil meraup uang ratusan milyar kala itu, pengelolanya raib entah kemana. Beberapa waktu kemudian pihak kepolisian baru dapat menangkap pengurusnya dan dikenakan pidana kurungan namun uang investor yang terlanjur masuk tidak pernah jelas penyelesaiannya.
Ada ciri khas dari penipuan yang bergaya Madoff dan QSAR ini yang harus dicermati. Hasil investasi yang mereka tawarkan biasanya "Too Good To Be True". Ya, hasil investasinya dipastikan tidak masuk akal. Pengembalian hasil jauh lebih tinggi dari investasi paling moderat sekalipun, misalnya saham, apalagi bila dibanding bunga tabungan dan deposito.
Seyogyanya investor dapat memahami, inti dari kerjasama investasi adalah sharing resiko dan bukan sharing profit. Bila memang sudah pasti investasi tersebut sangat menguntungkan, maka tidak akan mungkin untuk dishare bukan?. Nah, bila ada tawaran investasi yang justru sangat menjanjikan, ada baiknya mundur teratur.
Salam sukses buat semua.........




